Selasa, 28 Desember 2010

KECOA FOOD



Jubah Perang Samurai Jepang "Kaburo Youri Tsukuri"


Rabu, 15 Desember 2010 Secara bahasa Kabuto dapat diartikan sebagai Helm Perang. Biasanya helm ini dihias secara rumit. Pada masa kamakura dan masa heinan, helm ini dirancang untuk melindungi dari serangan panah. Ada banyak teknik yang digunakan pada helm ini, salah satunya adalah dengan membuatnya dalam beberapa lapisan, teknik ini disebut hachi mai Bari.

Tsukuri adalah tindakan yang diambil setelah lawan tidak seimbang.
Yoroi Berarti Pelindung..


Kabuto yoroi tsukuri ini adalah jubah perang Samurai jepang. Biasanya yang memakai jubah ini adalah Samurai yang memiliki kedudukan tinggi.


Beberapa sumber mengatakan helm dan jubah perang ini terinspirasi oleh Helm perang yang dipakai oleh Masamune Date seorang samurai lengendaris.

Kabuto ini memiliki beberapa bagian, yaitu:
- Hachi, yaitu pelindung puncak kepala.
- Shiroko, yaitu rangkaian/piringan yang disusun vertikal untuk melindungi bagian leher.


Kabuto ini memiliki harga yang sangat mahal ( ada uang ada barang ada kualitas). Biasanya dipakai oleh Komandan, atau kepala Klan.

Kabuto biasanya dibangun dari 3 hingga lebih dari seratus logam piring/plat, yang digabungkan bersama bersama. Piring/plat biasanya diatur secara vertikal, dan memancar dari pembuka di atas disebut "tehen" atau "hachiman-za" (tempat duduk dari dewa perang, Hachiman). Awal tujuan tehen adalah untuk melindungi. Walaupun ini adalah sebagian besar penggunaan ditinggalkan setelah periode kamakura-muromachi, tehen tetap sebagai fitur yang paling penting bagi kabuto, dan dihiasi dengan "tehen kanamono", atau cincin dari logam lunak di sekitar pembukaan tehen (untuk unsur keindahan).

Kabuto biasa dipakai dengan Jubah perang lengkap yoroi, dan menpo


http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/2.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/3.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/4.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/5.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/6.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/7.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/8.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/9.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/10.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/11.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/12.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/13.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/14.jpg

http://i613.photobucket.com/albums/tt214/L301n/15.jpg

SEJARAH TABOB


Pada masa sebelum terbentuknya batas wilayah Nu Fit Roah, tibalah di Nu Fit dua orang Musafir asal Bali. Mereka bernama Tabi dan Tabai. Perjalanan mereka waktu itu hanya menggunakan perahu dan untuk pertama kalinya menuju Indonesia Timur yaitu di Nuhu Roa (dalam bahasa Indonesia disebut Kei Kecil). Sebelum tiba di Nuhu Roa, mereka singgah dahulu di Pulau Kuur dan mereka sempat memancang bendera Sair Lak di tanjung Watsua  Song. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan sampai di Nuhu Roa melalui Nuhu Tawun (sekarang bernama Pulau Dullah) dan mendarat di Kalvik.
Setelah tiba di Nuhu tawun, mereka mengadakan perjalanan lagi dan tiba di suatu tempat bernama ohoi Vaan (dalam arti Indonesia disebut umpan dan sekarang bernama kampung Faan) dan mendarat di suatu tempat namanya Rumheng. Dan setelah turun dari perahu, mereka menuju di suatu tempat yang bernama Woma Lorngas dan mendapat ijin untuk tinggal di ohoi Faan.
Setelah Tabi dan Tabai tinggal beberapa lama di Faan, mereka kemudian berangkat menelusuri pesisir barat pulau Kei Kecil menuju selatan pulau Kei Kecil tepatnya di kawasan Nu Fit.  Lalu mereka mendarat  dan bermukimbdi Arloon tanjung Yale. Barang-barang yang dibawa berupa Baanrit ditinggalkan di Faan. Di Nu Fit Tabi dan Tabai tinggal lama disana, Tabi kemudian beristrikan Dai, Tabai beristrikan Afmas. Tabi mempunyai seorang anak lelaki bernama Falikormas, sedangkan Tabai mempunyai anak perempuan bernama Boymas.
Suatu saat ketika Boymas hendak mencuci rambutnya dengan santan kelapa, tapi sebelumnya Boymas menjemur kelapa yang sudah diparut. Ternyata parutan kelapa itu tertiup angin termasuk juga nyiru tempat meletakannya. Boymas lalu menangis dan meminta kepada ayahnya untuk mencarikan nyiru tersebut. Tabi dan Tabai kemudian menyiapkan perahu mereka dan berlayar untuk melakukan pencarian. Perahu itu dilengkapi dengan Yatel untuk tali layar; Ngis untuk timba ruah; gurita untuk tali sauh, dan viarak untuk tali kemudi. Lus ditempatkan di ujung tiang layar. Setelah itu mereka menuju Dai-Kovyai. Setelah mereka tiba di Kovyai (sekarang disebut Kaimana, suatu pulau di Papua), dimana Kaimana waktu itu dikuasai oleh seorang raja bernama Badmar. Kehadiran Tabi dan Tabai ditolak disini dan selanjutnya mereka diserang oleh raja Badmar. Pertempuran tersebut menggunakan kekuatan alam. Pertarungan berlangsung sengit dengan disertai angin utara, Guntur dan kilat yang dilancarkan Rat Badmar dating silih berganti. Seranagn ini dengan mudah dapat dipatahkan dengan mudah oleh Tabai dan Tabi yang dibantu dengan kelengkapan Ngis, gurita, Lus yang mereka miliki. Serangan ombak dan badai yang dilancarkan Tabi dan Tabai tidak mampu dihadapai Raja Badmar dan rakyatnya, dan mereka kalah. Sebagai imbalannya, Tabi dan Tabai disilahkan memilih daratan atau pulau mana saja sebagai milik mereka. Ini sebagai Tatak Tab agar peperangan tidak berlanjut keluar. Raja Badmar juga memberikan mereka sejenis ikan bulus yang diberi nama tabob dan berpesan kepada mereka: “Pakailah daun batar dan melambailah maka dia akan mengikuti kalian”. Seorang penduduk Kovyai bernama Karas Bastul Karoi kemudian membuat kalung lalu dipasang di leher tabob. Selain itu diberikan pula Lanur Besbes sebagai penggiring tabob, dan pada pangkal ekor lanur besbes diberi gelang yang terbuat dari rotan. Setelah mendapat semuanya itu, Tabi dan Tabai kembali ke Nuhu Roa.
Tabi dan Tabai kembali ke Nuhu Roa melewati jalur Nuhu Mwar, Nuhu Tawun dan menuju Faan-Rumheng lalu masuk ke Woma Lorngas. Disini penduduk menolak untuk memelihara tabob dengan alasan takut tabob akan merusak lutur bila air laut surut. Akhirnya Tabi dan Tabai menyerahkan wuwur untuk dipelihara.
Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tepi barat Nuhu Roa singgah dulu di Sit Ni Ohoi (dalam Indonesia disebut kampungnya kucing) untuk memangkur sagu disana. Mereka melewati Wair dan tiba di pulau dekat Ngursit. Setelah mendarat di Waab, melewati surut yang disebut meti Silak sahar di depan Ohoiren dan Ohoira.  Sesudahnya mereka berlayar dan melewati Somlain dan berlabuh di Tanjung Doan. Setiap tempat ada saja tanda yang ditinggalkan oleh kedua kakak-beradik ini.
Karena tidak menemukan tempat yang cocok untuk memelihara tabob dan Lanur Besbes, Tabi dan Tabib kemudian kembali dan singgah di Ngur mun watwahan. Disinilah Lanur Besbes dipelihara oleh Tabai. Sementara itu tabob dibawa ke Arlo’on dintara Tanjung Arat dan Laye (tabob ni lutur) dan dipelihara oleh Tabi. Dengan demikian Lanur Besbes dipelihara di Lair En Tel, sedangkan tabob di Tun En Fit.
Suatu saat Tabai ingin menikmati daging tabob. Maka Tabai pergi menemui saudaranya dan meminta seekor tabob. Permintaan ini dipenuhi tetapi dengan satu syarat “jangan menikam tabob yang bertanda putih di kepala, karena itu induknya. Bila ditikam, ia akan memutus tali, menjadi liar dan ganas, membongkar lutur sehingga semua tabob akan keluar dari tempat pemeliharaan”.
Setelah mendapat ijin dari saudaranya, Tabai langsung ke laut. Disaat yang sama muncul tabob bertanda putih di kepala. Tanpa menghiraukan peringatan Tabi, induk tabob tersebut ditikam. Benar adanya, tabob ditikam….kemudian menjadi ganas, memutus tali, membongkar lutur dan akhirnya KELUAR… !!!!                                                      Sebelum keluar dari lutur, tabob  berpesan: “bila kamu mencari dan ingin menemukan kami maka bekal makanan dan minuman harus sudah habis barulah berjumpa di meti Ngan Ten Baf ”.
Begitulah ceritanya. Maka dari itu, para leluhur telah menerima tabob sebagai Ub. Bila ada persidangan tertinggi di kawasan Nu Fit yang disebut Siran maka tabob yang dianggap sebagai moyang atau leluhur itu harus dihadirkan. Untuk mengundang tabob untuk hadir hanya bisa dilakukan oleh marga Reyaan Hemas (Ohoidertutu)


TABOB  DI    NU FIT (UMFANGNAN AM)

Tabob (sebutan dalam bahasa Kei) atau dalam bahasa Indonesia disebut penyu belimbing merupakan suatu sumberdaya laut yang khas dan endemik di kawasan pesisir barat Pulau Kei Kecil khususnya di daratan Nu Fit Roah. Pandangan tentang ketersediaan Sumber Daya Laut (SDL) oleh sebagian besar masyarakat di Nu Fit Roah adalah “Tabob” merupakan sumberdaya yang tidak akan punah. Hal ini didasari pada anggapan masyarakat tradisional bahwa Tabob sebagai Tad, Ub, dan makanan pusaka mereka (baca: orang Nu Fit). Ini membuat mereka dapat berburu tabob sebanyak mungkin tanpa memperhatikan kelestariannya.
Melalui beberapa kajian, penelitian dan pendekatan yang telah dilakukan oleh tim SIRaN sebelumnya (diantaranya tahun 2004,2006,2007,2009) menjelaskan bahwa tingkat perburuan tabob untuk keperluan konsumsi saat ini sudah mulai berkurang. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang semakin tinggi dan jumlah tabob di alam semakin berkurang sehingga memicu kesadaran masyarakat setempat akan pentingnya peran tabob bagi mereka. Diperkirakan kalau tidak ada tindakan pencegahan dalam bentuk konservasi maupun perlindungan lainnya (mis. penangkaran) dan dibantu dengan sedikit pemahaman serta informasi tentang tabob, maka mungkin saja pada tahun-tahun mendatang tabob hanya tinggal legenda bahkan bisa jadi menyisakan dogeng penghantar tidur bagi anak cucu Nu Fit Roah. Jika diijinkan untuk berbicara, mungkin tabob akan meminta kepada kita semua: “Umfangnan Am” (Sayangilah kami).
Masyarakat di Nu fit meyakini bahwa tabob yang ada di perairan Nu Fit berasal dari  laut Papua. Tabob akan datang di perairan Nu Fit dalam jumlah yang banyak ketika musim barat tiba (ditandai dengan bunyi Guntur di utara; bulan September-Pebruari). Tabob bisa “disuruh atau diperintah” berbalik, angkat kepala dan lainnya ketika mau ditikam; sangat jinak walau didekati dengan perahu. Tabob merupakan Tom – Tad (artinya tanda) bagi orang Nu Fit dan merupakan makanan pusaka dan tidak akan pernah punah. Tujuh garis yang terdapat pada punggung tabob adalah lambang milik orang Nu Fit. Tabob yang berkepala putih itu yang paling besar.

Senin, 27 Desember 2010

Kepulauan Kai

  • Kepulauan Kai (atau Kei) di Indonesia berada di bagian tenggara Kepulauan Maluku, termasuk dalam Provinsi Maluku.
Geografi
Penduduk setempat menyebut kepulauan ini Nuhu Evav ("Kepulauan Evav") atau Tanat Evav ("Negeri Evav"), tetapi dikenal dengan nama Kei atau Kai oleh penduduk dari pulau-pulau tetangga. "Kai" sebenarnya adalah sebutan dari zaman kolonial Hindia Belanda, dan masih digunakan dalam buku-buku yang ditulis berdasarkan sumber-sumber lama. Kepulauan ini terletak di selatan jazirah Kepala Burung Irian Jaya, di sebelah barat Kepulauan Aru, dan di timur laut Kepulauan Tanimbar.
Kepulauan Kai terdiri atas sejumlah pulau, di antaranya adalah
(Setelah Pemekaran Kota Tual tahun 2008 sebagai Kota Administratif, maka Pulau Dullah, Pulau Kuur, Pulau Taam dan tayando menjadi daerah Kota Tual, sedangkan Pulauh Kei Kecil, Kei Besar, Tanimbar kei menjadi Daerah Kabupaten Maluku Tenggara (Kabupaten Induk) dengan Ibukota Kabupaten Langgur (Terletak di pulau kei kecil). Sejak 1 Januari 2010 Pusat pemerintah kabupaten maluku tenggara resmi berada di langgur walaupun penyerahan aset kabupaten ke pemerintah kota tual baru dilaksanakan tanggal 23 januari 2010)
Selain itu masih terdapat sejumlah pulau kecil tak berpenghuni. Total luas area daratan Kepulauan Kai adalah 1438 km² (555 mil²).
Kei Besar bergunung dan berhutan lebat. Kei Kecil datar dan memiliki populasi terbanyak. Pulau ini sebenarnya merupakan sebuah pulau koral yang terangkat ke permukaan laut. Ibukota kepulauan ini adalah Kota Tual, yang mayoritas warganya beragama Islam. Tak jauh dari Tual terletak Langgur yang merupakan pusat bagi warga Kristiani. Kei termasyhur berkat keindahan pantai-pantainya, misalnya pantai Pasir Panjang.
Kepulauan Kai merupakan bagian dari daerah Wallacea, kumpulan pulau-pulau Indonesia yang dipisahkan oleh laut dalam dari lempeng Benua Asia maupun Australia, dan tidak pernah tersambung dengan kedua benua tersebut. Sebab itu, hanya terdapat sedikit jenis mamalia lokal di Kepulauan Kai.
Sejarah
Prasejarah
Tom Goodman bersama tim ekspedisi Duyikan dari Universitas Hawaii adalah salah satu dari beberapa ilmuwan asing yang meneliti gua kuno Ohoidertavun yang berada pada ketinggian sekitar 15 meter dari permukaan laut di Kei Kecil. Di sekitar gua kuno ini ditemukan dinding batu sepanjang 200 meter yang terukir apik dengan beragam gambar dan lukisan/tulisan kuno. Lukisan kuno yang terpajang di dinding goa Ohoidertavun menggambarkan beragam kehidupan masyarakat di masa lampau dalam kaitannya dengan alam sekitarnya seperti matahari, bulan, dan bintang, serta perahu sebagai sarana transportasi, kehidupan fauna dan flora, bahkan lukisan topeng. Pada situs tersebut juga tergambar lukisan mengenai seni tari gembira sebagai ungkapan syukur yang lebih terfokus pada kehidupan religius. Lukisan di dinding goa Ohoidertavun mengekspresikan tingginya kebudayaan bangsa Indonesia pada ribuan tahun silam yang memiliki spesifikasi yang serupa dengan karya lukisan masyarakat asli Papua dan Australia. Adanya kemiripan sejarah dan budaya ini mengundang perhatian khusus Direktur/Produser Film dari Australia, Marcus Gillezeau untuk mengabdikannya dalam film dokumenter untuk disebarluaskan ke seluruh dunia guna mengundang semakin banyak ilmuwan, wisatawan, dan petualang berkunjung ke daerah rempah-rempah ini, yang pernah kesohor di masa lalu.
Apa yang ditemukan di goa Ohoidertavun merupakan sesuatu yang tergolong langka, unik, dan luar biasa menarik untuk diteliti dan dikaji, ungkap Marcus. Karenanya perlu diangkat ke permukaan untuk dipromosikan karena lukisan tangan para leluhur yang tergolong langka di tebing batu setinggi 24 meter itu secara antropologi mengisyaratkan adanya semacam kesamaan hubungan keturunan antara suku asli Kepulauan Kei dengan penduduk asli Australia.
Sejarah Lisan
Penduduk Kepulauan Kei hampir tidak memiliki catatan sejarah tertulis. Sebaliknya mereka memiliki Tom-Tad, yakni hikayat-hikayat lisan yang disertai dengan benda-benda warisan tertentu sebagai penjamin keontentikan hikayat itu. Sebagian besar hikayat ini dibumbui dongeng atau lambang-lambang, akan tetapi dianggap sepenuhnya benar secara harafiah oleh pribumi kepulauan ini pada umumnya.
Menurut hikayat setempat, leluhur orang Kei berasal dari Bal (Bali), wilayah kerajaan Majapahit di kawasan Barat Nusantara. Konon dua perahu utama berlayar dari pulau Bali, masing-masing dinahkodai oleh Hala'ai Deu dan Hala'ai Jangra. Setibanya di kepulauan Kei, dua perahu ini berpisah. Perahu rombongan Jangra menepi di Desa Ler-Ohoylim, pulau Kei Besar, dan perahu rombongan Deu berlabuh untuk pertama kalinya di Desa Letvuan, Pulau Kei Kecil.
Letvuan dijadikan pusat pemerintahan, tempat dikembangkannya hukum adat Larvul Ngabal (Darah merah dan tombak Bali) atas gagasan Putri Dit Sakmas. Bukti hubungan dengan Bali ini di Kei kecil mencakup beberapa benda warisan dan sebuah tempat berlabuh yang dinamakan Bal Sorbay (Bali-Surabaya), yakni tempat perahu keluarga kerajaan itu dulu berlabuh.
Hala'ai Jangra dan Hala'ai Deu adalah gelar, bukan nama diri. Nama asli mereka tidak lagi diketahui. Sebagian pemuka adat Kei mengatakan bahwa nama asli Hala'ai Deu adalah Esdeu, ada yang mengatakan Kasdeu, ada pula yang berpendapat bahwa nama sebenarnya adalah Sadeu, atau Sadewa, atau pun Dewa.
Selain Bali, orang Kei yakin bahwa negeri-negeri asal leluhur mereka mencakup Sumbau (Pulau Sumbawa), Vutun (Buton), Seran Ngoran (Pulau Seram dan Gorom di Maluku Tengah), serta Dalo Ternat (Jailolo dan Ternate).
Zaman modern
Pulau kecil Tanimbar-Kei bukanlah bagian dari Kepulauan Tanimbar, melainkan bagian dari Kepulauan Kai dan berpenghuni kurang dari 1000 jiwa, warganya sangat tradisional. Setengah dari populasi pulau ini mengaku beragama Hindu, namun kenyataannya mereka mempraktekkan pemujaan leluhur, yakni sistem religi asli Kepulauan Kai.
Pada tahun 1999 pecah kerusuhan antara warga Muslim dan Kristiani di Kota Ambon yang kemudian merambat pula ke Kepulauan Kai, akan tetapi dengan cepat mereda serta tidak banyak menelan korban jiwa.
Bahasa
Ada tiga bahasa rumpun austronesia yang dipertuturkan di Kepulauan Kai; Bahasa Kei (Veveu Evav) adalah yang paling luas pemakaiannya, yakni di 207 desa di Kei Kecil, Kei Besar, dan pulau-pulau sekitarnya. Penduduk Pulau Kur dan Kamear menggunakan Bahasa Kur (Veveu Kuur) dalam percakapan sehari-hari, Bahasa Kei mereka gunakan sebagai lingua franca. Bahasa Banda (Veveu Wadan) digunakan di desa Banda Eli (Wadan El)dan Banda-Elat (Wadan Elat) di bagian barat dan Timur Laut Pulau Kei Besar. Para Pengguna Bahasa Banda berasal dari Kepulauan Banda, tempat di mana bahasa itu tidak lagi digunakan. Bahasa Kei tidak memiliki sistem tulisan sendiri. Para misionaris Katolik dari Belanda menuliskan kata-kata Bahasa Kai dengan suatu bentuk variasi penggunaan abjad Romawi.
Kosa Kata
Beberapa kata dalam Bahasa Kei memiliki fonem V (seperti V pada Via dalam Bahasa Latin) yang berbeda dengan fonem F dan P. Penduduk wilayah Utara Pulau Kei Besar membedakan fonem R seperti pada kata Rata dalam Bahasa Indonesia, dengan fonem R seperti pada français /fʁɑ̃ sɛ/ dalam bahasa Perancis. Meskipun demikian, dalam bentuk tertulis, kedua fonem ini tidak dibedakan.
Kosa kata Bahasa Kei modern mencakup banyak kata serapan dari banyak bahasa lain terutama Bahasa Melayu. Sebagian besar adalah nomina, yakni nama beberapa benda yang baru dikenal masyarakat Kepulauan Kei pada akhir abad ke-19. Kata-kata yang memiliki huruf P dan G dapat dipastikan merupakan kata serapan, karena kedua fonem tersebut tidak dikenal dalam kosa kata Bahasa Kei asli.
Contoh beberapa kata serapan :
  • Gur = Guru
  • Agam, Angam, Ayngam = Agama
  • Masikit = Masjid
  • Pen = Pena
Ucapan Salam
  • Fel be / Fel be he : Apa khabar?
  • Bok át / Bok bok wat: Baik-baik saja
Peribahasa
  • Adat en'ot rat na'a dunyai : Adat menciptakan raja di dunia, artinya terhormat atau tidaknya seseorang bergantung pada perilaku dan tutur katanya.
  • Vu'ut ain mehe ngivun ne manut ain mehe ni tilur : Telur dari satu ekor ikan saja, dan telur dari satu ekor ayam belaka; artinya semua orang itu pada hakikatnya bersaudara, laksana banyak telur yang berasal dari satu ekor ikan atau satu ekor ayam saja. ini merupakan peribahasa yang paling terkenal di daerah kai.
  • Sar Sangongo weat yaf: Laksana ngengat menggoda api; pepatah ini adalah peringatan halus bagi para pemberani yang suka bermain-main dengan bahaya.
  • Lakur roa loat nangan: Ikan kakatua di laut, belut di darat; artinya mudah untuk berbicara tetapi sulit untuk dilaksanakan (oleh: Chres Balubun, Ohoi-El, Kei Besar)
  • Flor nit sob Duad, hoar taup lai you : menyembah Tuhan sambil penghormatan terhadap Leluhur yang sudah tiada (oleh: Chres Balubun, Ohoi-El, Kei Besar)
  • Lar nakmot na ivud: (Biarkan) darah tergenang di perut; kalimat ini merupakan peringatan untuk tidak mengeluarkan darah dari tubuh sesama manusia (leluhur Evav beranggapan bahwa tempat darah di dalam tubuh adalah di perut). Kalimat ini juga merupakan salah satu pasal hukum adat Evav yang mengutuk semua tindak kekerasan, biang keladi pertumpahan darah.
  • Teen fo teen, yanat fo yanat: Orang yang tua tetap menjadi orang yang tua, anak tetap menjadi anak. Artinya, orang yang tua hendaknya bertindak sebagaimana seharusnya mereka bertindak, sedangkan tuntutan bagi seorang anak adalah menghormati orang yang tua dalam sikap, tutur kata dan perbuatannya. Seorang anak harus memposisikan diri sebagai seorang anak di hadapan orang yang tua (Dimas R, di Manado)
  • Toil u ne savak mur: Menatap ke depan dan menoleh ke belakang; manusia mesti senantiasa mengupayakan masa depan yang lebih baik sambil belajar dari pengalaman di masa lampau.

Hukum Adat Evav
Secara lengkap hukum adat Evav yang disebut Larvul Ngabal itu terdiri atas tujuh pasal, yaitu:
  1. Ud entauk atvunad (kepala kita bertumpuh pada leher kita) maknanya, atasan (Yang Tertinggi, pemimpin, orang-tua) melindungi bawahan (manusia, rakyat, anak) menjunjung atasan.
  2. Lelad ain fo mahiling (leher kita diluhurkan) maknanya, hidup manusia diluhurkan.
  3. Ul nit envil atumud (kulit membungkus tubuh kita) maknanya, harkat martabat manusia dihormati.
  4. Lar nakmot ivud (darah berdiam di perut kita) maknanya, keselamatan manusia dilindungi.
  5. Rek fo mahiling (Ambang batas kamar diluhurkan) maknanya, batas-batas kesusilaan (kehormatan wanita) diluhurkan.
  6. Moryain fo kelmutun (tempat tidur keluarga dimurnikan) maknanya, perkawinan (kehormatan rumah-tangga) dimurnikan.
  7. Hira ni tub fo ni, it did tub fo it did (miliknya tetap menjadi miliknya, milik kita tetap menjadi milik kita) maknanya, hak milik seseorang (kaum) diakui dan dihormati.
Pasal 1, 2, 3 dan 4 disebut juga hukum adat Navnev (hukum kehidupan), pasal 5 dan 6 disebut juga hukum adat Hanilit (hukum kesusilaan), dan pasal 7 disebut hukum adat Hawear Balwirin )hukum keadilan sosial). Ketiga tema hukum itu (Navnev, Hanilit dan Hawear Balwirin) masing-masing dilengkapi dengan tujuh pasal larangan hukum adat, yang disebut Sa Sor Fit (tujuh lapis kesalahan/pelanggaran). Beno Mairuma di Surabaya
Perekonomian
Kepulauan Kei dianugerahi terumbu karang yang produktif dan berlimpah, dikelilingi laut yang dalam. Seperti kebanyakan masyarakat Maluku, mata pencaharian orang Kei merupakan suatu kombinasi dari kegiatan bercocok-tanam, berburu, dan menangkap ikan di perairan sekitar pantai. Karena Kepulauan Kei tidak menghasilkan rempah-rempah ataupun komoditas yang bernilai tinggi lainnya selain kayu, perahu dan teripang, maka Kei luput dari perhatian pedagang dan kolonialis Barat sampai dasawarsa terakhir abad ke-19. Ikan dan kerang berlimpah ruah di laut sekitar Kepulauan Kei. Menangkap ikan adalah aktivitas sekunder; keluarga-keluarga umumnya menghabiskan lebih banyak waktu untuk bercocok tanam. Warga desa menangkap ikan dengan menggunakan perangkap ikan, kail, lembing, dan jala, atau dengan mengumpulkan ikan-ikan yang terjebak di terumbu karang dan ceruk-ceruk pantai pada saat air laut surut. Sejak tahun 1980an, banyak nelayan mulai menggunakan jaring nilon dan motor tempel. Beberapa warga desa memperdagangkan sebahagian hasil panen atau tangkapannya kepada para tengkulak atau di pasar-pasar kota Tual dan Elat. Sumber pendapatan tunai lainnya mencakup penjualan kopra dan cangkang kerang lola (Trochus niloticux), usaha dagang eceran, sumbangan dari anggota keluarga di rantau, dan gaji pegawai negeri.
Selain daripada Teripang, terdapat pula LOLA yang merupakan hasil laut di kepulauan Kei. Hrga LOLA perkilonya bisa mencapai 50ribu rupiah..(by: CHRES BALUBUN, Ohoi-El,Kei Besar)
Seni Budaya
Alat Musik
Alat musik tradisional di Kepulauan Kai adalah:
  • Savarngil (Suling): Seruling kecil lokal sepanjang 4 sampai 8 inci, terbuka di kedua ujung, memiliki enam lubang tempat jari, terbuat dari bambu, dan tanpa kunci nada.
  • Tiva (Gendang): Terdiri atas selembar membran dari kulit sapi yang direntangkan erat-erat menutupi salah satu ujung dari sebuah wadah yang berlubang.
  • Dada (Gong): Alat musik tabuh dengan jari-jari 12 sampai 15 inci, terbuat dari tembaga atau besi dengan tonjolan di bagian tengah.
Tarian
Sosoy Temar-Rubil (Tarian Perang) yang penuh semangat hanya ditarikan oleh kaum pria, sementara tarian yang lembut seperti Sosoy Kibas (Tari Kipas) hanya ditarikan oleh kaum wanita. Gerakan-gerakan yang tidak terlampau lembut maupun beringas hanya terdapat dalam Sosoy Sawat (Tarian Pergaulan) dan Sosoy Yarit (Tarian Umum), dan oleh karenanya dapat ditarikan baik oleh pria maupun wanita. Gerak-gerik yang agung dan lemah-lembut diijinkan dalam tarian pria seperti dalam Sosoy Swar Man-Vuun (Tarian Penghormatan), namun gerak-gerik yang cepat dan lincah tidak terdapat dalam tarian wanita. Tarian asli Kei umumnya diciptakan untuk tujuan penghormatan, sehingga jarang ditarikan oleh anak-anak. Hanya orang dewasa dan remaja akil-balig yang diikutsertakan. Bahkan sosoy Swar Man-Vuun yang dipentaskan di haluan "Bilan" (Perahu Kebesaran) dulunya hanya ditarikan oleh pria yang sudah berkeluarga.
Penari wanita di kepulauan Kei juga menggunakan Kipas, Yerikh (Daun lontar yang dikeringkan) dan Penari Pria dapat menggunakan panah, parang, Tombak dan juga bulu Kasuari dan diikatkan pada ujung tongkat berukuran kurang lebih 10 cm.
Seperti di banyak tempat di Kepulauan Maluku, sejak zaman kolonial, orang Kei mengenal pula dansa ala Eropa, dan kaum mudanya saat ini tidaklah jauh tertinggal dalam seni tari kontemporer. Dansa Waltz, cha cha cha, dan bahkan joget dangdut umum dijumpai dalam pesta-pesta mereka.




Oleh : Emanuel  Onie Sugeng . P. Dip.Th