Selasa, 28 Desember 2010

SEJARAH TABOB


Pada masa sebelum terbentuknya batas wilayah Nu Fit Roah, tibalah di Nu Fit dua orang Musafir asal Bali. Mereka bernama Tabi dan Tabai. Perjalanan mereka waktu itu hanya menggunakan perahu dan untuk pertama kalinya menuju Indonesia Timur yaitu di Nuhu Roa (dalam bahasa Indonesia disebut Kei Kecil). Sebelum tiba di Nuhu Roa, mereka singgah dahulu di Pulau Kuur dan mereka sempat memancang bendera Sair Lak di tanjung Watsua  Song. Kemudian mereka melanjutkan perjalanan sampai di Nuhu Roa melalui Nuhu Tawun (sekarang bernama Pulau Dullah) dan mendarat di Kalvik.
Setelah tiba di Nuhu tawun, mereka mengadakan perjalanan lagi dan tiba di suatu tempat bernama ohoi Vaan (dalam arti Indonesia disebut umpan dan sekarang bernama kampung Faan) dan mendarat di suatu tempat namanya Rumheng. Dan setelah turun dari perahu, mereka menuju di suatu tempat yang bernama Woma Lorngas dan mendapat ijin untuk tinggal di ohoi Faan.
Setelah Tabi dan Tabai tinggal beberapa lama di Faan, mereka kemudian berangkat menelusuri pesisir barat pulau Kei Kecil menuju selatan pulau Kei Kecil tepatnya di kawasan Nu Fit.  Lalu mereka mendarat  dan bermukimbdi Arloon tanjung Yale. Barang-barang yang dibawa berupa Baanrit ditinggalkan di Faan. Di Nu Fit Tabi dan Tabai tinggal lama disana, Tabi kemudian beristrikan Dai, Tabai beristrikan Afmas. Tabi mempunyai seorang anak lelaki bernama Falikormas, sedangkan Tabai mempunyai anak perempuan bernama Boymas.
Suatu saat ketika Boymas hendak mencuci rambutnya dengan santan kelapa, tapi sebelumnya Boymas menjemur kelapa yang sudah diparut. Ternyata parutan kelapa itu tertiup angin termasuk juga nyiru tempat meletakannya. Boymas lalu menangis dan meminta kepada ayahnya untuk mencarikan nyiru tersebut. Tabi dan Tabai kemudian menyiapkan perahu mereka dan berlayar untuk melakukan pencarian. Perahu itu dilengkapi dengan Yatel untuk tali layar; Ngis untuk timba ruah; gurita untuk tali sauh, dan viarak untuk tali kemudi. Lus ditempatkan di ujung tiang layar. Setelah itu mereka menuju Dai-Kovyai. Setelah mereka tiba di Kovyai (sekarang disebut Kaimana, suatu pulau di Papua), dimana Kaimana waktu itu dikuasai oleh seorang raja bernama Badmar. Kehadiran Tabi dan Tabai ditolak disini dan selanjutnya mereka diserang oleh raja Badmar. Pertempuran tersebut menggunakan kekuatan alam. Pertarungan berlangsung sengit dengan disertai angin utara, Guntur dan kilat yang dilancarkan Rat Badmar dating silih berganti. Seranagn ini dengan mudah dapat dipatahkan dengan mudah oleh Tabai dan Tabi yang dibantu dengan kelengkapan Ngis, gurita, Lus yang mereka miliki. Serangan ombak dan badai yang dilancarkan Tabi dan Tabai tidak mampu dihadapai Raja Badmar dan rakyatnya, dan mereka kalah. Sebagai imbalannya, Tabi dan Tabai disilahkan memilih daratan atau pulau mana saja sebagai milik mereka. Ini sebagai Tatak Tab agar peperangan tidak berlanjut keluar. Raja Badmar juga memberikan mereka sejenis ikan bulus yang diberi nama tabob dan berpesan kepada mereka: “Pakailah daun batar dan melambailah maka dia akan mengikuti kalian”. Seorang penduduk Kovyai bernama Karas Bastul Karoi kemudian membuat kalung lalu dipasang di leher tabob. Selain itu diberikan pula Lanur Besbes sebagai penggiring tabob, dan pada pangkal ekor lanur besbes diberi gelang yang terbuat dari rotan. Setelah mendapat semuanya itu, Tabi dan Tabai kembali ke Nuhu Roa.
Tabi dan Tabai kembali ke Nuhu Roa melewati jalur Nuhu Mwar, Nuhu Tawun dan menuju Faan-Rumheng lalu masuk ke Woma Lorngas. Disini penduduk menolak untuk memelihara tabob dengan alasan takut tabob akan merusak lutur bila air laut surut. Akhirnya Tabi dan Tabai menyerahkan wuwur untuk dipelihara.
Perjalanan dilanjutkan dengan menyusuri tepi barat Nuhu Roa singgah dulu di Sit Ni Ohoi (dalam Indonesia disebut kampungnya kucing) untuk memangkur sagu disana. Mereka melewati Wair dan tiba di pulau dekat Ngursit. Setelah mendarat di Waab, melewati surut yang disebut meti Silak sahar di depan Ohoiren dan Ohoira.  Sesudahnya mereka berlayar dan melewati Somlain dan berlabuh di Tanjung Doan. Setiap tempat ada saja tanda yang ditinggalkan oleh kedua kakak-beradik ini.
Karena tidak menemukan tempat yang cocok untuk memelihara tabob dan Lanur Besbes, Tabi dan Tabib kemudian kembali dan singgah di Ngur mun watwahan. Disinilah Lanur Besbes dipelihara oleh Tabai. Sementara itu tabob dibawa ke Arlo’on dintara Tanjung Arat dan Laye (tabob ni lutur) dan dipelihara oleh Tabi. Dengan demikian Lanur Besbes dipelihara di Lair En Tel, sedangkan tabob di Tun En Fit.
Suatu saat Tabai ingin menikmati daging tabob. Maka Tabai pergi menemui saudaranya dan meminta seekor tabob. Permintaan ini dipenuhi tetapi dengan satu syarat “jangan menikam tabob yang bertanda putih di kepala, karena itu induknya. Bila ditikam, ia akan memutus tali, menjadi liar dan ganas, membongkar lutur sehingga semua tabob akan keluar dari tempat pemeliharaan”.
Setelah mendapat ijin dari saudaranya, Tabai langsung ke laut. Disaat yang sama muncul tabob bertanda putih di kepala. Tanpa menghiraukan peringatan Tabi, induk tabob tersebut ditikam. Benar adanya, tabob ditikam….kemudian menjadi ganas, memutus tali, membongkar lutur dan akhirnya KELUAR… !!!!                                                      Sebelum keluar dari lutur, tabob  berpesan: “bila kamu mencari dan ingin menemukan kami maka bekal makanan dan minuman harus sudah habis barulah berjumpa di meti Ngan Ten Baf ”.
Begitulah ceritanya. Maka dari itu, para leluhur telah menerima tabob sebagai Ub. Bila ada persidangan tertinggi di kawasan Nu Fit yang disebut Siran maka tabob yang dianggap sebagai moyang atau leluhur itu harus dihadirkan. Untuk mengundang tabob untuk hadir hanya bisa dilakukan oleh marga Reyaan Hemas (Ohoidertutu)


TABOB  DI    NU FIT (UMFANGNAN AM)

Tabob (sebutan dalam bahasa Kei) atau dalam bahasa Indonesia disebut penyu belimbing merupakan suatu sumberdaya laut yang khas dan endemik di kawasan pesisir barat Pulau Kei Kecil khususnya di daratan Nu Fit Roah. Pandangan tentang ketersediaan Sumber Daya Laut (SDL) oleh sebagian besar masyarakat di Nu Fit Roah adalah “Tabob” merupakan sumberdaya yang tidak akan punah. Hal ini didasari pada anggapan masyarakat tradisional bahwa Tabob sebagai Tad, Ub, dan makanan pusaka mereka (baca: orang Nu Fit). Ini membuat mereka dapat berburu tabob sebanyak mungkin tanpa memperhatikan kelestariannya.
Melalui beberapa kajian, penelitian dan pendekatan yang telah dilakukan oleh tim SIRaN sebelumnya (diantaranya tahun 2004,2006,2007,2009) menjelaskan bahwa tingkat perburuan tabob untuk keperluan konsumsi saat ini sudah mulai berkurang. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk yang semakin tinggi dan jumlah tabob di alam semakin berkurang sehingga memicu kesadaran masyarakat setempat akan pentingnya peran tabob bagi mereka. Diperkirakan kalau tidak ada tindakan pencegahan dalam bentuk konservasi maupun perlindungan lainnya (mis. penangkaran) dan dibantu dengan sedikit pemahaman serta informasi tentang tabob, maka mungkin saja pada tahun-tahun mendatang tabob hanya tinggal legenda bahkan bisa jadi menyisakan dogeng penghantar tidur bagi anak cucu Nu Fit Roah. Jika diijinkan untuk berbicara, mungkin tabob akan meminta kepada kita semua: “Umfangnan Am” (Sayangilah kami).
Masyarakat di Nu fit meyakini bahwa tabob yang ada di perairan Nu Fit berasal dari  laut Papua. Tabob akan datang di perairan Nu Fit dalam jumlah yang banyak ketika musim barat tiba (ditandai dengan bunyi Guntur di utara; bulan September-Pebruari). Tabob bisa “disuruh atau diperintah” berbalik, angkat kepala dan lainnya ketika mau ditikam; sangat jinak walau didekati dengan perahu. Tabob merupakan Tom – Tad (artinya tanda) bagi orang Nu Fit dan merupakan makanan pusaka dan tidak akan pernah punah. Tujuh garis yang terdapat pada punggung tabob adalah lambang milik orang Nu Fit. Tabob yang berkepala putih itu yang paling besar.

14 komentar:

  1. Kalau cuma tau sepanggal jangan di posting.. karena kami anak negeri madwaer lebih mengetahui pendalaman sejarah tersebut

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukn saja anak.madwaer yg tshu itu tetapi senua anak.nuhfit yg tahu

      Hapus
  2. saya paul rumheng

    menurut saya tobi dan tobai bukan musafir dari bali tapi dari kampung saya dan rumheng itu bukan kampung atau desa melainkan marga dari desa ur pulau

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bnyk orang tahu bahwa TOBI dan TABAI itu dari bali

      Hapus
  3. Sejarahnya kurang lengkap..
    Ini sama saja dengan menipu para Pembaca.
    Beta Somlain Beta Nuhu Fit.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau yg di cerittakan itu kurang lengkap ya di lengkapi saja.

      Hapus
  4. Jngn lngsung memfonis orng..krn kita hrs saling melengkapi..

    BalasHapus
  5. kita tidak bisa membenarkan salah satu fersi begitu saja. semua fersi justru amat membantu para penulis untuk merangkumnya baik kesamaan dan perbedaannya. ingat semua sejarah di kei itu sejarah lisan meski ada tad dan war-war sekalipun. jadi hargailah fersi yang diceritakan oleh penulis di atas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. benar, versi beda2 dan hargai ini bukan duduk adat.

      Hapus
  6. mari kita saling melengkapi supaya sejarah kita libih bermanfaat untuk ank anak kita...saya john sedubun rahangmetan rahan naraha dumal..sy ingin bertnya nen boymas ank dari tabai itu kawin dengan siapa dan bagaimana keturunany

    BalasHapus
  7. Saya baru tau kalau Hanya marga Hemas dari Ohoidertutu yang bisa Mengundang Tabib🤣🤣.
    Cerita dari mana asal tau saja Ohoidertutu hanya kampung yang di tambahkan kedalam Nuhufit. Jelas 7 Kampung yang lebih mengenal Tabob adalah 7 Kampung ini . Madwaer, Ohoiren ,Ohoira Somlain , Warbal , Ur dan Tanimbar Kei . Saya asli Orang Nufit dari Ohoira.

    BalasHapus
    Balasan
    1. JNGAN DULU DI VONIS SALAH COBA TELUSURI SEJARAHNYA KENAPA REYAAN HEMAS ADA DI SANA UNTUK MEMANGIL UB Hadir DALAM RITUAL ADAT DI SERAN NUH FIT DI NGUR TOB ELKEN? KARENA PASTI ADA SESUATU HAL

      Hapus
  8. TERIMAKASIH SUDAH MEMBAGI SEJARAH TABOB..MESKIPUN MASIH KURANG NAMUN SUDAH CUKUP UNTUK DI MENGERTI

    BalasHapus
  9. Banyak versi sejarah, paling tdk kita bisa memiliki gambaran ttg sejarah tabob. Oh ya dikoreksi ya, ttg sejarah tabobo ohoidertutu belum terbentuk. Ohoidertutu itu perkembangan lebih lanjut dari ohoidertom. Toh kalau bicara ttg Nufit Laer entel maka dikenal itu Hemas Yamlim, Ohoider yamlik dan sevav ratut, setelah Un El Lorubun bawa Hukum Wadarwef ke hemas yamlim.

    BalasHapus

Bagaimana pendapat anda tentang hal ini..........